IBADAH YANG RUSAK

Ya Allah SWT amalan ibadah mana yang Engkau terima dari hidupku di dunia ini? Apakah ibadahku sia-sia atau hanya sekedar menggugurkan kewajiban saja? Renungan harian yang menjadi semangat untuk ibadah yang lebih baik lagi, lebih khusyuk lagi, dan lebih istiqomah lagi.

Hal tersebut jadi renungan saat menjalani ibadah diantaranya

  1. Ibadah Sholat, ibadah yang dilakukan rutin dan terusmenerus tiada henti hingga akhir hayat kecuali pada saat wanita terhalang oleh haid atau nifas. Kadang Ibadah sholat yang kita lakukan belum maksimal kekhusukannya mungkin karena dalam pikiran dan hati belum nyambung bahwa ini benar – benar ibadah curhatan hati kepada Sang Pencipta. Belum khusyuk ibadah ini mungkin karena pekerjaan yang belum tuntas, aktifitas rutin yg belum selesai, pembicaraan yang kurang ramah, belanjaan yang masih kurang komplit dan sesuatu lain yang menjadikan pikiran belum bisa konsentrasi dengan baik dalam menjalankan Ibadah.
  2. Ibadah Zakat, ibadah yang dilaksanakan setiap tahun dan wajib setiap muslim menjalankan zakat. Ibadah yang mempersembahkan harta terbaik kita kepada Allah SWT. Tidak memberikan sesuatu yang tidak kita makan atau gunakan. Semua serba baik orisinil tanpa untung dan rugi bila kita niat karena Allah SWT.
  3. Ibadah Puasa, ibadah yang sangat menguji nyali kita, butuh kesabaran karena ibadah ini adalah ibadah yang sangat menekan hingga membunuh nafsu. Bila tidak bernyali maka akan gugur ibadah tersebut. Dan bila sukses ibadah tersebut maka akan terlihat dari akhlaknya. Bagaimana terhadap dirinya, orangtuanya, keluarganya, tetangganya dan seluruh aktifitas yang berada disekitarnya.

Perjalan hidup setiap insan berbeda dalam menjalankan ibadah. Apalagi di negara kita ada tujuh agama yang dianut. Semua berkeinginan dan berlomba-lomba melaksanalan ibadah sesuai tuntunan rukun dan wajibnya ibadah. Contohnya bersedekah yang dianjurkan dan mudah dilakukan dan pahala timbangan kebaikannya berbobot dan sangat umum dilakukan karena familiar dengan sedekah atau memberi dengan cuma-cuma, yang bikin beda hanya niatnya. Begitu juga dengan ibadah, melihat anak sudah bisa melantunkan takbir “Allahu akbar” surat alfatikhah itu sangat luarbiasa, apalagi ada gerakannya sangat bersyukur karena sianak ada keinginan untuk mengulang berkali-kali. Bagaimana dengan kita yang sudah baligh, berilmu dan berakal yang menjadi kewajiban. Tentunya menjadi semangat bukan karena kewajiban, akan tetapi karena kebutuhan yang memang sangat butuh. Bila seorang muslim sangat bergantung pada Allah SWT, maka akan menjadikan kewajiban dan kebutuhan sebagai dasar dalam menjalankan ibadah. Tanpa meremehkan dan mempermainkan sang kholiq. Keinginan memiliki sesuatu yang lebih adalah hal lumrah apalagi tidak ada tandingannya. Itu kebanggaan karena sifat kerakusan dan ketamakan ego manusia dan itu biasa lumrah. Kekhawatirannya akan membuat hal tersebut merusak ibadah yang dibangun rutin  selama bertahun – tahun dan terusmenerus yang sia-sia hingga yang didapat amalan kita zonk. Audzubillahimindzalik